Aku senang sekali membaca novel Lasykar Pelangi. Jujur saja, awalnya kukira hanya berkisah tentang sekelompok anak-anak LSM dengan segala suka dukanya membina anak-anak putus sekolah seperti yg umum kutahu. Aku merasa surprise karena ternyata jalinan kisahnya berbeda dan mengalir penuh warna. Dan pendeskripsian segala sesuatunya sangat detail.
Lasykar Pelangi seakan membawa kembali kenangan dengan kawan-kawan sebaya saat masih SD, dengan segala dinamika anak-anak pada masa itu.Yang paling aku suka dari kisah Andrea Hirata ini adalah ungkapan-ungkapan yang ada dalam fikiran si tokoh utama yakni si rambut ikal, tentang hal-hal yang dilhatnya. Gambaran tentang teman-teman, para tetangga serta guru2 dari sudut pandangnya. Begitu pula dengan situasi lingkungan di sekelilingnya. Dia menggambarkannya secara naif juga jenaka. Gaya berceritanya segar. Meskipun terselip hal-hal yang mengharukan.Namun keharuan kisah tidak di tulis dengan gaya bahasa yang cengeng meski pahit sekalipun. Seperti saat tokoh Lintang harus putus sekolah. Atau saat si rambut ikal harus merasakan patah hati karena di tinggal gadis pertama yang membuatnya merasa rindu.
Lasykar Pelangi menggambarkan realita kehidupan yang penuh ironi namun tetap segar penulisannya. Agaknya Andrea Hirata tak ingin terjebak denga kisah2 pilu berurai air mata tanpa ada keceriaan didalamnya.
