Peperangan tanpa menimbulkan korban anak-anak, mungkinkah? Dunia sedang resah, pasca kehebohan anti terorisme yang di gulirkan presiden Amrik, sekarang dunia sedang di buat ternganga dengan agresi suatu negara kecil yang pernah mengalami trauma fisik dan psikis akibat genosida di jaman perang dunia kedua, Israel, terhadap negara Palestina yang berdaulat.
Peperanganpun tak dapat di hindari. Sejak lama kedua bangsa tersebut memang seperti sudah di takdirkan untuk saling memusuhi. Meski sesungguhnya takdir dapat kita hindari dengan kemauan utnukberdamai dan saling menghargai. Terlepas dari masalah intern maupun ekstern antar keduanya, yang jelas permusuhan diantara kedua bangsa tsb telah menelan ribuan nyawa manusia, terutama anak-anak.
Anak-anak adalah korban yang paling rentan. Anak-anak adalah sasaran yang paling mudah di kirim ke akherat. Mereka tak dapat melindungi dirinya sendiri saat negaranya di landa perang. Anak-anak korban perang adalah pengalaman yang paling menakutkan. Karena dalam peperangan segala hal bisa terjadi. Seperti halnya bencana tsunami.
Bedanya, anak- anak perang dilanda tsunami peluru, bom, dan kekerasan tingkat tinggi lainnya yang terencana dan sistematis.
Kekerasan yang dilakukan siapapun, dalamĀ skala kecil maupun besar, efeknya tetaplah sama. Sama nestapanya, sama korbannya. Kehilangan masa depan dan nyawa.
Bila terorisme dilakukan oleh kelompok perkelompok saja bisa menyisakan korban yang banyak dan penderitaan besar bagi korban dan keluarganya, maka korban dari terorisme yang dilakukan oleh suatu negara tentu tak dapat lagi di prediksi kehancurannya.
Dan lagi-lagi anak anaklah korban terbesar. Mereka tak dapat berlindung,karena keluarga mereka dan negaranya tengah terancam pemusnahan. Dan mungkin hanya karena Tuhanlah mereka masih bisa bertahan.
Anak-anak perang mungkin penuh dendam dalam alam bawah sadarnya. Mereka harus menyaksikan kedua orangtuanya di aniaya, rumahnya di bakar, teman-temannya menghilang, sekolahnya hancur, dan negaranya tak dapat memberi perlindungan pada mereka. Mereka juga tak mudah untuk di bantu, karena misi2 kemanusiaan belum tentu diizinkan beroperasi memberikan bantuan di wilayah mereka. Mereka harus bisa bertahan tanpa dapat memastikan kapan semua ini berakhir. Kapan dapat tidur lagi dengan nyenyak tanpa mendengar dentuman mortir dikejauhan. Kapan dapat belajar lagi dan bermain, dan kapan dapat menatap kembali senyum-senyum bersahabat di sekitar mereka yang pernah ada. Anak-anak perang tak dapat memastikan semua itu. Mereka juga tak dapat meneriakkan pada dunia bahwa sampai kapan mereka bebas dari ancaman kelaparan, permusuhan, dan kekerasan para “tamu tak di undang” tersebut.
Anak- anak perang tak bisa lagi mengalami kedamaian diri. Hati dan perasaannya penuh ironi. Mereka yang tak mengerti bagaimana mengatasi itu semua , mungkin hanya bisa berharap agar orang-orang dewasa yang punya masalah satu sama lain, segera mengakhiri pertikaian mereka. Berjabat tangan kembali, duduk bersama, dan saling menepati janji untuk memperbaiki apa yang telah dakibatkan dari permusuhan abadi mereka. Serta berharap orang-orang dewasa dapat konsisten menjaga kembali perdamaian, tidak hanya satu detik, tapi satu menit. Tidak hanya satu menit, tapi satu jam, tidak hanya satu jam tapi satu hari, tidak hanya satu hari, tapi satu bulan, satu tahun, satu abad, dan akhirnya selamanya. SAVE THE CHILDREN IN EVERYWHERE!
(Buat anak-anak korban perang, kekerasan individu, kelompok, serta bencana alam), jauhkan dendammu. Balaslah dengan do’a dan kasih sayang umtuk memulai perdamaian, kalau kita tak punya apa2 lagi untuk membela diri)
