Aku menemui seorang teman dengan sebuah keluhan kecil(atau besar??). Dengan wajah kubuat resah, kuhampiri dia yang tengah asyik membaca sebuah buku setebal bantal. Kacamatanya yang hampir melorot seolah tak menjadi gangguan fokusnya dalam membaca.
Wajah itu tersenyum samar saat pandangannya berpindah padaku. “something problem?”. ujarnya penuh tanya melihat pandanganku yang seolah seolah tengah berfikir berat lagaknya mahasiswa yang tengah menghadap sidang skripsi. Aku menganguk agak lesu. Dia tersenyum, namun tak bertanya lebih lanjut. Meskipun tidak lantas meneruskan bacaannya yang terganggu kehadiranku, yang sepertinya selalu salah waktu.
Aku duduk di sampingnya. Dia seakan siap mendengarkan. “aku harus menulis apa lagi ya?.Suaraku nyaris bergumam. Dia tak menoleh padaku. Duduk terpekur penuh khidmat. “Kenapa bertanya begitu?” tanyanya, itupun terdengar nyaris berbisik ditelingaku. Aku menggeleng perlahan. “Ya itu tadi, Aku sebaiknya menulis apa?. Karena rasanya sulit menulis sesuatu semenarik apapun bagiku , tanpa lagi berfikir apakah memang layak aku yang menulis tentang itu? tanyaku perlahan.
Temanku menoleh,dengan pandangan penuh heran. “Bukankah banyak sekali yang sebenarnya bisa kau tulis? selama tanganmu masih bisa memegang pena, otakmu masih jalan, dan matamu masih bisa melihat sekelilingmu , bahkan dunia, maka kau masih bisa menuangkan fikiranmu lewat tulisan”. jawabnya panjang lebar. Melihatku tak bereaksi, tangannya memegang pundakku. “Sebenarnya apa yang membuatmu bingung? apa tak ada lagi ide di kepalamu, andai memang matamu tak lagi berfungsi untuk melihat sekelilinmu?”, tanyanya heran.
Akupun akhirnya bercerita sedikit tentang sesuatu yang mengganjal di hati beberapa hari ini.
“Seseorang sepertinya sedang mempertanyakan bahwa yang ku tulis kemarin sepertinya tak sesuai dengan keadaan diriku yang sebenarnya yang dia tahu. Sepertinya, aku ini kurang pantas menulis sesuatu yang aku sendiri belum dapat nilai biru dalam pelaksanaanya. Aku menjadi bimbang, benarkah? setelah kupikir-pikir, kayaknya bener juga deh, Piet.” .
“Memangnya apa itu yang sudah kau tulis, yang membuat seseorang yang kau katakan itu sepertinya tak sepakat dengan tulisanmu, hanya karena menurut kacamatanya kau sendiri di nilainya belum mampu melakukan apa yang kau tulis?”, tanyanya sedikit hati-hati. Aku enggan menjawab panjang lebar, “Hanya persoalan mentalku mungkin “, jawabku pendek.
Lalu sambil menutup buku tebalnya, dia menatapku dalam. “Setahuku kamu terbiasa menghadapi aneka kritik ,apalagi hanya sekedar pendapat orang yang belum tentu benar mungkin menurut persepsimu sendiri. Bukankah ini yang pernah kamu katakan dulu padaku? Sebagai penulis pemula yang baru starting, bukankah seharusnya sudah siap menghadapi persepsi yang tidak selalu sama dari tiap orang yang mungkin membaca tema tulisanmu?
Aku menganggukan kepala,menyetujui yang dikatakannya. “Soal itu aku sudah menyadarinya kok. emang siiihh, aku ini kadang masih suka sensi dalam mempersepsikan seseatu hal yang belum tentu benar menurut sudut pandang orang lain. Hanya aja, aku bukan merasa di kritik dari segi penulisan atau gaya bahasaku yang jadi persoalan. Tapi soal thema, Piet. Ini urgent banget juga kan? …” Lalu kalau komentar temanmu memang benar menurut perasaanmu itu, kenapa memangnya? kamu merasa tak terima? hanya karena merasa di ingatkan mungkin?”, Tanyanya memotong penjelasannku. Aku tertawa. Bagiku pertanyaannya sangat logis. Aku terus mendengarkan. “Kamu tadi mengatakan soal mental. Dan karena kamu senang menulis, lantas saat seseorang yang kamu katakan itu memberikan komentarnya yang menurut persepsimu, seakan temanmu itu menganggap bahwa isi tulisanmu kayaknya tak sesuai dengan pandangannya yang mungkin dia ketahui tentangmu, maka kau menjadi resah, merasa bersalah, dan tenggelam dalam opininya tsb. Begitukan yang terjadi?” jelasnya memberi gambaran suasana hatiku saat ini yang tak jauh dari persoalan mental semata. Aku mengangguk membenarkan. Dia tersenyum menepuk pundakku, lalu melanjutkan penjelasannya.
“Yuri..camkanlah…bahwa setiap orang punya masa lalu. Bahwa masa lalu itu merupakan salah satu sisi sejarah yang tak ingin kau ingat- ingat lagi, akupun mengerti. Umumnya semua orang memang begitu. Makanya ada istilah, lupakanlah masa lalu. Hanya saja , tak fair rasanya bila saat ada yang tiba-tiba mengingatkanmu tentang perasaan kalahmu di masa lalu itu, lantas membuatmu menjadi begitu banyak pertimbangan dalam menulis sesuatu yang bagus untuk orang lain ketahui, aku tak rela. Karena bagaimanapun dirimu sebelumnya, ataupun sekarang ini, tak lantas harus membuatmu menjadi pesimis denan apapun yang ingin dan mungkin beluim kamu lakukan sebelumnya.”
Dia melanjutkan melihatku terus diam,Sekarang kamu ini sedang berproses untuk sedikit demi sedikit “membayar” apa yang belum kamu lakukan sebelumnya. Tentu tidak akan langsung jadi sesuai dengan harapanmu. Tapi yang penting buat seseorang yang mau bertransformasi adalah proses dalam menuju transform itu sendiri. Bukan selalu terpaku pada hasil akhirnya. Kalau kamu merasa baru bisa sekarag melakukannya, ya jalani saja dulu yang sedang kamu lakukan sekarang. Fokus! Mau tetap menulis? tulis..tulislah! jangan banyak fikir soal pantas tidaknya dengan tema yang mungkin menarik perhatianmu uuntuk kau angkat. Kecuali kalau memang kamu merasa tema tsb bukan bidangmu, ataupun memang masalah itu harus dengan riset-riset tertentu karena bersifat sangat teknis dan diluar kemampuanmu sebagai seorang pemula. Yaa..harus banyak cari referensinya dong tentunya. biar tak dianggap asal nulis hehe” Dia tertawa sambil menarik topi petku yang dibelikannya bebarapa waktu lalu saat tengah berkelana penuhi panggilan hatinya. Aku merasa sedikit lega mendengar penuturannya.
Kembalin dia melanjutkan. “Ingat ya yur, kalau mau menulis..tulis! tulis saja semenarik mungkin, seakurat mungkin, secepat mungkin begitu ide atau apapun itu datang padamu. Jangan tunda! Apalag kembali berfikir belum waktunya menulis tema-tema itu , padahal mungkin kamu merasa mampu. Dan yang penting, jangan lagi membandingkan keadaan dirimu dengan masalah yang ingin kamu angkat. Biarkan orang lain dengan persepsinya asal jangan membuatmu lantas merasa apatis, karena merasa afirmasimu pada diri sendiri bahwa tema itu memang tak sesuai dengan keseharianmu ataupun yang masih menjadi problema dirimu dalam mengatasinya, jangan berhenti di situ…tetap angkat penamu..positif thinking!…percaya diri…karena mungkin seseorang yang kau maksud itu, tak melihat proses pembelajaranmu lewat aktivitasmu dalam menulis. Dan hanya terpaku pada sudah dilakukan atau belum. Tapi aku percaya, tiap orang senantiasa berproses dalam segala tindakannya. Dan jangan lagi mengharapkan support dari orang lain,termasuk orang-orang di sekelilingmu. Support, spirit,kemauan..semua ada di diri kita sendiri. Bukan dari orang lain. Orang lain hanya penyeimbang. Kamulah yang menjalankannya sendiri. Menspirit diri sendiri. Berjuang sendiri. Jatuh sendiri, dan tentunya bangun sendiri dong..tul gaa?”. Aku kaget dan ikut tertawa. Dia mengakhiri pendapatnya dengan sedikit nada canda. Melumerkan perasaanku yang seakan baru dapat pencerahan …welehh..weleehh..! ‘
Namun sejurus kemudian aku kembali terpekur, masih ada sedikit pertanyaan yang mengganjal. “Tapi aku merasa apa yang dikatakan temanku itu benar deh, Piet tentang diriku. kalau kita menulis tentang keikhlasan pada orang lain, sementara kita sendiri dalam pandangannya dianggap belum ikhlas, kalaupun sudah merasa ikhlas, tapi dia menganggapnya aku seolah masih ada ganjalannya , masih ada tapi-tapinya dalam menerapkannya sendiri. Yaaa..aku merasa kayak munafik dong, Piet. Aku bisa-bisa dianggapnya tak mengukur diri. Menulis hanya karena ingin ada tulisan yang di baca orang. Bisa aja kan orang lain yang merasa tahu banyak tentangku berpendapat begitu juga?”.ujarku bersikeras dengan fikiranku sendiri.
Dia serius menatapku. “Dari sudut pandangnya tentangmu kan?” tanyanya, membuatku terdiam.
“Yuri, setahu apa orag lain tentang diri kita yang sebenarnya? termasuk apa yang kita fikirkan?” tanyanya. Aku menjawabnya yakin “Kamu lupa ya, temanku itu seorang terapis suatu cabang ilmu yang mungkin punya metode khusus yang bisa memetakan apa yang sedang di fikirkan orang lain. dari situ dia bisa tahu siapa, apa, dan bagaimana kita sekarang dan mungkin juga apa yang kita lakukan, dan apa yang belum atau tidak kita lakukan dimasa lalu maupun sekarang ini. Semua itu hanya lewat apa yang telah aku diskusikan padanya, seperti kita sekarang ini”. Jelasku.
Seraya memasangkan kembali topi pet di kepalaku yang membuat rambutku tadi sempat kesana kemari tertiup angin, dia kembali bertanya. : Oke… baiklah, temanmu yang sedang kau bicarakan itu pandai dalam memetakan fikiran orang , karena dia memang belajar tentang itu. dan kamu sendiripun merasa sudah sering berbincang padanya dan mungkin sesekali curhat padanya, minta pendapatnya tentang dirimu sekarang ataupun dulu. anggap saja begitu ya?” dia menatapku tersenyum. Kamu percaya karena dia memang sering menterapi orang bukan?. Aku mengangguk pasti.
Dia melanjutkan, “Namun kalau pada akhirnya komentarnya dalam salah satu tulisanmu di sebuah media lantas membuatmu tiba-tiba jadi tidak percaya diri lagi dalam berpendapat, berfikir dan menuangkannya dalam sebuah tulisan, so what? Dia mungkin tak sampai melihatmu memang benar-benar melakukannya. Atau melihat hal-hal positif lainnya yang sudah lama kamu ingin lakukan dan sedang kamu lakukan pelan-pelan, namun mungkin baru kesempatan itu ada sekarang, atau mungkin kesadaran Itu baru kau dapatkan, karena baru sekarang kau berfikir melakukannya. Dia mungkin belum sampai berfikir kesana Yur. Apalagi kalau kau sendiri membenarkannya. Jujur saja, kalau karena satu komentar itu ,ataupun karena persepsi yang dia ambil tentangmu seperti itu yang membuatmu tidak PD lagi, aku sangat kecewa. Kamu sudah tak fair lagi dalam menilai dirimu sendiri. Orang lain bisa salah tentang kita, tapi kita jangan sampai ikut salah dengan berhenti melakukan pekerjaan kita, termasuk aktivitas lainnya yang sudah kita rintis. Itu tak fair menurutku, tak fair buat dirimu sendiri.” Selesai mengatakan itu pandangan matanya tampak menerawang kedepan.
“Jadi aku harus bagaimana dong. Akukan tengsin jadinya he..he..! Coba deh kalau pembacaku merasa apa yang kutulis bulsshit, karena yang angkat artikel itu belum menjalaninya” tanyaku lagi sambil cengengesan seperti biasanya, kalau sudah merasa tersudut dalam suatu diskusi dengannya. Dia meneruskan tanpa terpancing dengan gayaku yang sedikit merajuk.
” Memangnya semua pembacamu tahu apa saja yang terjadi denganmu positif atau negatifnya? Bagaimana mungkin,opini orang lain yang baru kenal dan berjumpa denganmu dalam beerapa kali pertemuan, sudah sanggup untuk membuatmu jadi berfikir bahwa kamu harus mikir seribu kali dulu kalau mau menulis tema-tema menarik yang memang bisa kau angkat lewat tulisanmu itu, hanya karena kamu merasa pedapat dia benar. Wah, bisa-bisa kamu akan lebih banyak berfikir tidak jadi menulisnya saja daripada meneruskan apa yang ingin kau tulis, hanya karena terlalu berfikir kau kayaknya belum pantes deh nulisnya, belom gue baangett, bisa- bisa yang tau entangku mencibir deh. lagaknya si yuri nulis soal kesabaran, dia sendiri ga sabaran, lagaknya si yuri nulis soal introspeksi diri, dia sendiri masih egois berat. Begitukan yang ada di fikiranmu sekaang?” Dia mengakhiri kalimatnya dengan sebuah pertanyaan yang tak bisa kubantah kebenarannya.
Lanjutnya ,”It,s okelah kalau yang kukatakan tadi mungkin benar menurut kata hatimu. Hanya saja kita ambil hikmahnya saja sekarang. Daripada memikirkannya terus, lebih baik berdamai dengan perasaanmu sendiri saja mulai saat ini. Toh temanmu yang terapis itu mungkin hanya ingin mengingatkanmu saja, tak bermaksud menyindirmu, apalagi mengecammu bukan?. Kalaupun menurutmu sebaliknya, ya anggap saja dia sedang mengkritikmu. Bukankah kamu selalu bilang bahwa kamu senang dikritik karena membuatmu belajar?” Aku mengangguk sambil menjawab, ” Aku selalu menerima kritikan kok dalam kehidupanku. terutama dikeluargaku sendiri. Jadi soal kritik no problemo buatku. Hanya saja aku mungkin saat inii sedang ingin mensupport diriku untuk bangkit berdiri, yaah mungkin belum kelihatan sih. karena akukan masih belom percaya diri. Tapi yang kumaksud sebenarnya, aku jugakan sedang dalam proses pendewasaan diriku kearah depan..bukan kebelakang.” Dia menganguk, ” Well, just it! itu intinya. lakukan apa yang ingin kamu lakukan, tulis apa saja yang ingin kamu tulis tanpa perlu berkaca diri dulu. karena dalam menulispun seseorang sebenarnya sedang melakukan proses pembelajaran dalam dirinya ke segala hall. sesuai dengan apa yang sedang di tulisnya. Tentunya kau tahu melakukan hal-hal yang kita sukai dengan benar dan konsisten, bisa membantu proses penyembuhan mental seseorang. Kamu menulis tentang kesehatan meskipun kamu tidak datang dari kalangan medis, berarti kamu sedang belajar untuk tahu lebih banyak tentang kesehatan. kamu menulis tentang tentang keikhlasan, kesadaran diri, spiritualitas, dan sebagainya, maka itu berarti kamu sedang dalam pembelajaran kearah proses menterapi dirimu sendiri menjalankan itu semua. Pembelajaran yur, proses diri! dan itu tak mudah. karena umumnya orang lebih suka curhat tanpa melakukan apa-apa. tapi kamu melakukannya dengan caramu sendiri, lewat tulisan Menulis apa yang belum bisa kamu lakukan terhadap dirimu sendiri. itu namanya kamu sedang berusaha berproses menyerapi dan melakukannya.
Aku tersenyum. ” Tapi bisa saja kan orang tak percaya itu? bisa jadi dia berpendapat yaaahh..proseskan harus di terapkan juga..di jalani..dilakukan…dan bukan hanya berhenti pada tulisan semata. Kalau menulis tentang sedekah, sudah sedekah, belum? jangan-jangan cuma ingin baca bukunya saja , tapi enggan mengambil manfaatnya dengan menjalani apa yang sudah kita baca itu”. Aku berusaha kembali memancing pendapatnya.
Temanku tersenyum, lalu katanya ” Hanya diri kita sendiri i yang tahu apakah kta sudah melakukan apa yang sudah kita ketahui tentang ilmu apapun yang telah kita dapatkan. Orang lain tahunya mungkin hanya di luarnya, sebatas dengan apa yang kita katakan . Kalau kamu melakukan, namun kamu selalu bilang bahwa kamu tidak melakukannya, naah mereka akan percaya kalau kamu memang tidak melakukannya. Mana mungkin mereka terus mengontrolmu kan? . Begitu pula kalau kamu bilang melakukan apa yang sudah kamu baca di buku, atau di buku yang kau tulis, maka orang lain akan percaya kalau kamu memang melakukannya. Soal benar tidaknya kan , tetap hanya kamu sendiri yang tahu. sepandai apapun orang itu dalam memetakan fikiran orang, menembus ruang batin orang, tetap saja punya keterbatasan. Karena ilmu pun terbatas pada apa yang kita pekajari. Kita bukan Tuhan , yur. jadi jangan terpaku pada pendapat orang lain. ambil saja sisi baiknya, tapi jangan pula kamu abaikan pendapat orang lain tentang diri kita dengan maksud untuk memperbaikinya.
Aku terkesima, agak lega seakan sudah memahami saat itu juga analisa temanku. Padahal mungkin yang harus kulakukan adalah, belajar untuk menerima pendapat orang lain apapun yang mereka fikirkan tentang kita, namun juga bijak menilai kalau pendapat orang tidak seratus persen kita anggap benar karena akan menjadi semacam afirmasi diri bahwa kita memang seperti itu. Dan tentunya benar tidaknya pendapat orang tentang diri kita, tidaklah lantas membuat kita berhenti untuk melakukan apa yang sudahn kita lakukan sebelumnya dalam upaya memprosres diri dalam menkualitaskan diri kita. bahwa itu dianggapnya belum sepenuhnya sempurna karena mungkin kita dianggapnya masih menyimpan ganjalan-ganjalan di satu sisi, tidaklah harus menjadi pengaruh dalam fikiran kita. Tentunya bila kita mau menyikapinya dengan keikhlasan untuk menerima apapun kondisii diri kita. sambil terus berproses memperbaiki segala kekurangsempurnaan itu , setidaknya lewat aktivita spositif yang selama ini kita lakukan dengan penuh kebahagiaan. itu aja kali dulu yang penting hehe…tul ga siiiihh???

Makasih udah maw comments ke aku…
oh, iya,, mbak salam kenal dari saya,
saya masih pelajar SMP yang lokasinya di Pulau Batam
Salam kenal, mbak smoga
saya masih bisa terus saling berkomentar.
nama saya, Nurkhalifah but mbak bisa manggil saya
Ifa or Fha ……………………..