Aku tak bisa menahan kekagumanku pada sosok tokoh sejarah Gajah Mada. Tokoh yang namanya sudah akrab ditelingaku. Maklum dari SD, anak bangsa ini sudah dikenalkan oleh sang tokoh yang menurutku pribadi merupakan sentra dari kerajaan yang mewarisi banyak wilayah kepada bangsa yang sekarang bernama Indonesia.
Dulu sih aku tak begitu merasa dekat banget dengan tokoh brilliant maupun kerajaannya yang fenomenal dalam sejarah kemaharajaan warisan nusantara abad silam ini. Ternyata aku merasa beruntung banget bisa membaca kisahnya yang berbentuk novel ini.
Jujur saja deh, mengikuti kisah tokoh satu ini lewat jalinan kisah berbentuk novel justru aku merasa lebih mengenal dari dekat sosok keseluruhan dari sang tokoh. Pemikirannya, ide-idenya yang brilliant, antara ketegasan dan sisi manusiawinya, pandangan hidupnya, sampai sepak terjangnya yang mengagumkan.
Dan yang paling aku kagumi adalah loyalitasnya pada negara dan rajanya. Tak ada kompromi bila buat negara. Hebat! Sungguh hebat! Sampai-sampai aku berpikir , apa yang akan dilakukan gajahmada bila melihat beberapa pulau warisan untuk bangsa ini sekarang raib di sabot negara asing tetangganya? Wah jangan-jangan dia akan menumpahi para pemimpin negeri ini yang notabene anak cucu turunannya sekarang yang tidak becus menjaga wilayah.
Sudah cape-cape aku warisi demikian banyak wilayah sampai-sampai bersumpah palapa segala ….lha para pemimpin anak cucuku koq malah cuek bebek ketika bangsa lain merebut wilayah ini satu persatu? Lha apa prajurit anak cucuku tidak lebih hebat dari para prajuritku dulu yang cuma bermodalkan anak panah beracun? Apa otak-otak pinter keluaran perguruan tinggi ini masih kalah pinter dibanding otakku yang belum pernah sekolah tinggi? Jangan-jangan perangkat perang anak cucuku masih kurang high tech dibanding anak panah bhayangkara anak buahku dulu? he3. Gitu kalau ya yang akan diungkapkan sang tokoh demi mewujudkan cita-cita bersatunya nusantara sampai harus hamukti palapa segala.
Langit kresna sang penukis menurut saya memiliki daya imajinasi yang sanggup menembus ruang dan waktu. Sungguh, gaya tulisannya sangat enjoy dibaca. Tidak nyelimet, malah menambah pengetahuan akan warisan kosakata dari jaman majapahit. Gaya berceritanya juga menarik buatku karena sanggup membawa imajinasiku seakan benar-benar pindah ruang dari kamar tempatku membaca tanpa terasa sudah melanglangbuana keabad-abad silam sebagai saksi mata pada sepak terjang sang tokoh fenomenal yang selama ini seakan hanya sosok deongeng belaka yang nyaris terlupakan kontribusinya pada cikal bakal berdirinya republik bernama Indonesia ini.
Saya baru membaca jilid ke 3 tapi rasanya sudah tidak sabar untuk cepat-cepat mengomentari mahakarya dari Langit Kresna ini. Seru, romantis, deg2an, lucu, konyol, serius yang mewarnai kisah Gajah Mada ini.
Namun dibalik kekagumanku pada sosok Gajah Mada itu, ada yang tidak aku sepakati dari tindakan-tindakan dia yang menurutku tidak menggunakan nurani. Main ambil praktis dan tidak manusiawi, tidak memikirkan pihak lain demi mempertahankan pihak lain.(yr)